|
Berikut ini adalah ringkasan untuk Jurnal Penelitian Teh dan Kina Volume 10 Nomor 1, 2 periode tahun 2007.
Studi komunitas mikroorganisme saprofit pada filosfer teh Oleh: Dini Jamia Rayati Ringkasan : Keberadaan komunitas mikroorganisme saprofit pada permukaan daun (filosfer) teh dapat menjadi sumber potensial untuk memperoleh mikroorgasnisme antagonis yang dapat digunakan dalam pengendalian hayati penyakit cacar teh. Penelitian bertujuan untuk mengetahui komposisi/keragaman dan populasi mikroorganisme saprofit pada filosfer teh dan variasinya pada berbagai kondisi lingkungan sistem produksi teh. Faktor lingkungan yang diteliti meliputi: ketinggian tempat, musim, klon, pohon pelindung, dan penyemprotan fungisida. Mikroorganisme saprofit diisolasi dari sampel daun teh yang diambil dari berbagai perkebunan teh di Jawa Barat yang mewakili kondisi faktor lingkungan yang diteliti. Hasil menunjukkan bahwa komunitas mikroorganisme saprofit filosfer teh terdiri atas jamur (kapang) (11 isolat), ragi (26 isolat), dan bakteri (20 isolat). Kelompok jamur didominasi Cladosporium, kelompok ragi didominasi pink yeasts, dan kelompok bakteri didominasi cream-chromogenic bacteria. Berdasarkan populasinya, populasi tertinggi yang mengkolonisasi filosfer teh adalah bakteri, dengan perbandingan rata-rata kepadatan populasi antara bakteri, ragi, dan jamur adalah 70 : 4 : 1. Berdasarkan frekuensi perolehannya, terdapat 8 jenis mikroorganisme saprofit yang dominan ditemukan pada filosfer teh, yaitu jamur J25 (Cladosporium variable), ragi R4 (unpigmented yeast), R11 (Rhodotorula rubra), R15 (yellow yeast), dan R19 (orange yeast), serta bakteri B5 (yellow-chromogenic bacterium), B6 (yellow-chromogenic bacterium), dan B7 (cream-chromogenic bacterium). Keragaman dan populasi mikroorganisme saprofit filosfer teh sangat bervariasi pada kondisi lingkungan sistem produksi teh yang berbeda.
Efektivitas aplikasi nutrien terhadap perkembangan infeksi penyakit cacar (Exobasidium vexans) pada tanaman teh
Oleh: Dini Jamia Rayati Ringkasan : Ketersediaan nutrien pada permukaan daun menentukan kolonisasi alami mikroorganisme saprofit filosfer yang dapat berperan sebagai agens pengendali alami penyakit tanaman yang menyerang daun. Penelitian dilakukan untuk mengetahui efektivitas aplikasi nutrien terhadap perkembangan infeksi penyakit cacar (Exobasidium vexans) pada tanaman teh dalam kaitannya dengan pengaruhnya terhadap kolonisasi alami jamur (kapang) dan ragi saprofit pada filosfer teh. Penelitian dilakukan di Perkebunan Teh Ciliwung (1.350 m dpl), Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diuji meliputi: urea, (czapex dox + yeast extract), (sukrosa + yeast extract), fungisida tembaga, (fungisida tembaga + glukosa), dan kontrol. Aplikasi dilakukan dengan cara penyemprotan, dengan parameter pengamatan Indeks Intensitas Penyakit (IIP), serta populasi jamur dan ragi saprofit pada filosfer teh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi serangan penyakit yang berat (di atas 60%), pada kondisi serangan penyakit yang berat (di atas 60%), aplikasi urea, (czapex dox + yeast extract), serta (sukrosa + yeast extract) efektif menurunkan infeksi penyakit cacar. Efektivitasnya tidak berbeda nyata satu sama lain, dan sebanding dengan fungisida kimia tembaga, dengan rata-rata tingkat efikasi 20,35%. Efektivitas aplikasi czapex dox + yeast extract serta sukrosa + yeast extract dalam menurunkan infeksi penyakit cacar berkaitan dengan pengaruhnya terhadap populasi jamur dan ragi saprofit filosfer teh, yang meningkat dengan adanya kedua aplikasi nutrien tersebut. Aplikasi fungisida tembaga tidak berpengaruh menurunkan populasi jamur dan ragi saprofit filosfer teh. Penambahan glukosa pada aplikasi fungisida tembaga dapat meningkatkan populasi jamur dan ragi saprofit filosfer teh, tetapi tidak menghasilkan peningkatan efektivitas terhadap penyakit cacar.
Efektivitas formulasi bioherbisida pratumbuh terhadap pertumbuhan gulma di perkebunan teh
Oleh: Sobar Darana
Ringkasan :
Penelitian-penelitian sebelumnya membuktikan bahwa ekstrak daun dari dua jenis gulma di pertanaman teh, yaitu kirinyuh (Chromolaena odorata) and saliara (Lantana camara) mengandung senyawa alelopati yang dapat digunakan dalam upaya pengendalian gulma di pertanaman teh. Pada tahun 2006, telah dilakukan sebuah penelitian untuk mengembangkan dan menguji efektifitas serta daya simpan bio-herbisida dari ekstrak daun kirinyuh dan saliara. Penelitian dilakukan di laboratorium juga di lapangan. Enam formulasi EC dengan 4 ulangan telah dicoba menggunakan Rancangan Acak Kelopok (RAK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formulasi EC bio-herbisida yang dikembangkan dari ekstrak daun kirinyuh maupun saliara mempunyai daya simpan yang baik dan memberikan efektifitas penekanan yang lebih baik dibandingkan dengan penyiangan mekanis sebagai kontrol. Hasil terbaik diperoleh dari formulasi bio-herbisida ekstrak daun saliara yang diberi 0,5% emulsifier. Pemanfaatan lahan bekas perkebunan di dataran tinggi untuk pengembangan tanaman pakan ternak
Oleh: Nurhayati D. Purwantari, Isdiyanto, dan D.Lubis
Ringkasan : Penelitian dilakukan di dataran tinggi, di lahan bekas perkebunan teh di daerah Gambung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lokasi terletak pada ketinggian 1250–1500 m dpl, suhu lingkungan 16–220C, curah hujan 2500–3000 mm per tahun. Jenis tanah Andosol dengan pH 5,6. Penelitian ini dilakukan selama 2 tahun. Tanaman yang digunakan adalah rumput Pennisetum purpureum dan Panicum maximum cv. Riversdale sebagai pengisi lorong dan tanaman leguminose Leucaena diversifolia sebagai tanaman pagar. Penelitian dilakukan pada tiga kemiringan, yaitu 0–5%; 15–30% dan 40–50%. Parameter yang diukur adalah produksi hijauan rumput dan leguminose, kandungan nutrisi, dan kecernaan hijauan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumput P. purpureum dan Panicum maximum cv. Riversdale dipanen 8 kali. Tanaman leguminose perdu hanya bisa dilakukan 2 kali pemanenan. Rata-rata berat segar dan kering tertinggi P. purpureum dicapai pada kemiringan 20–30%, yaitu masing-masing 826,6 kg/plot/th yang setara dengan 93,9 ton/ha/th dan 173,3 kg/plot/th yang setara dengan 19,7 ton/ha/th, terendah dicapai pada kemiringan 40–50%, masing-masing 599,9 kg/plot/th setara dengan 68,2 ton/ha/th dan 125,9 kg/plot/th setara dengan 14,3 ton/ha/th. Kecenderungan yang sama terjadi pada rumput P. maximum, produksi rata-rata berat segar tertinggi adalah 522,0 kg/plot/th setara dengan 59,3 ton/ha/th dan berat kering 121,6 kg/plot/th atau 13,8 ton/ha/th dicapai pada kemiringan 20–30% dan terendah pada kemiringan 40–50%. Produksi hijauan kedua jenis rumput tersebut berfluktuasi menurut musim. Pada musim kemarau, produksi hijauan rumput P. purpureum hanya berkisar 20–36 kg/plot. Sedangkan pada musim hujan meningkat secara signifikan, yaitu antara 103,4–275,6 kg/plot. Pola yang sama terjadi pada P. maximum. Rata-rata produksi rumput P. purpureum lebih tinggi dibandingkan P. maximum, yaitu 738,4 kg/plot vs 472,2 kg/plot. Rata-rata berat segar dan kering tertinggi L. diversifolia yang ditanam dengan P. purpureum dicapai pada kemiringan 20–30%, yaitu 132,5 kg/plot dan 37,0 kg plot, terendah dicapai pada kemiringan 40–50%, yaitu 100,6 kg/plot dan 28,3 kg/plot. Sedangkan P. maximum pada kemiringan 0–5% menunjukkan rata-rata produksi tertinggi dengan berat segar 174,1 kg/plot dan berat kering 48,5 kg/plot, terendah pada kemiringan 40–50%, masing-masing 119,20 kg/plot berat segar dan 33,30 kg/plot berat kering. Produksi campuran antara P. purpureum dengan L. diversifolia tertinggi dicapai pada kemiringan 20–30%, yaitu 104,2 ton/ha/th untuk berat segar dan 22,9 ton/ha/th untuk berat kering. Campuran P. maximum dengan L. diversifolia dicapai pada ketinggian yang sama, yaitu berat segar 69,8 ton/ha/th dan berat kering 16,9 ton/ha/th.
Pengujian ekstrak air dan fraksi-fraksi daun teh hijau (Camellia sinensis (L.) Kuntze) terhadap aktivitas bakteri penyebab jerawat (Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus)
Oleh: Dadan Rohdiana, Rini Agustini, dan Fikri Alatas Ringkasan : Telah dilakukan pengujian ekstrak air, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air daun teh hijau (Camellia sinensis (L.) Kuntze) terhadap aktivitas bakteri penyebab jerawat yaitu Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus dengan menggunakan metode difusi agar perforasi. Ekstraksi daun teh hijau dilakukan dengan cara perebusan menggunakan pelarut air, dilanjutkan dengan fraksinasi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan-air (1:1) dan etil asetat-air (1:1). Hasil pengujian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat paling potensial dalam menghambat kedua bakteri uji. Konsentrasi hambat minimum (KHM) dari fraksi etil asetat terhadap aktivitas Propionibacterium acnes adalah 2%, dengan diameter hambat 14,15 mm, sedangkan konsentrasi hambat minimum (KHM) dari fraksi etil asetat terhadap aktivitas Staphylococcus aureus adalah 2%, dengan diameter hambat 14,84 mm. Hasil pemeriksaan kandungan kimia fraksi etil asetat daun teh hijau menunjukkan terdapatnya flavonoid, polifenol, tanin, monoterpenoid dan seskuiterpenoid, serta steroid dan triterpenoid. Senyawa tersebut diduga menjadi zat aktif yang berperan dalam menghambat aktivitas bakteri.
|