|
Teh masih dianggap sebagai minuman inferior. Di restoran, teh dihidangkan, tetapi tamu tetap ditanya minuman yang ingin dipesannya. Selain itu, tuan rumah pun sering merasa sungkan bila hanya bisa menghidangkan teh. Peneliti teh dari Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, Dadan Rohdiana, di sela-sela pembukaan Festival Teh di Bandung, Sabtu (1/9), mengatakan, teh masih menjadi minuman inferior. Kondisi itu terbukti dari konsumsi teh Indonesia yang masih sangat rendah, sekitar 300 gram per kapita per tahun.
Sebagai perbandingan, konsumsi teh Inggris 2.260 gram dan Jepang 1.140 gram. Kalangan masyarakat tertentu yang mapan pun lebih menyukai produk luar negeri, seperti dari China atau Jepang. Padahal, kata Dadan, teh Indonesia tidak kalah bermutu. Pasalnya, varietas teh Indonesia hampir seluruhnya adalah assamica, sedangkan China dan Jepang adalah sinensis. Kadar katekin pada varietas assamica lebih tinggi daripada sinensis. Katekin adalah kandungan pada teh yang bermanfaat untuk kesehatan. Katekin merupakan antioksidan yang sangat efektif untuk menetralkan radikal bebas dalam tubuh. Dadan yang juga dosen teknik pangan Universitas Pasundan itu mengatakan, teh Indonesia tidak menonjol karena kurang dipublikasikan. Berbeda dengan Jepang dan China, kedua negara tersebut sangat gencar mempromosikannya, terutama untuk teh hijau. "Ditinjau dari bahan bakunya, teh kedua negara itu saja sudah kalah. Katekin teh hitam Indonesia jauh lebih tinggi dari teh hijau China dan Jepang," tuturnya. Lebih baik Penulis buku Teh Minuman Bangsa-Bangsa di Dunia, Prawoto Indarto, menyebutkan, kadar katekin teh Indonesia lebih baik daripada negara lain. Teh hitam ortodoks Indonesia, misalnya, memiliki kadar katekin 8,24 persen berat kering, teh hijau ekspor 11,6 persen, dan teh wangi 9,28 persen. Sementara teh sencha Jepang berkadar katekin 5,06 persen, teh oolong dan teh wangi China masing-masing 6,73 dan 7,47 persen, serta teh hitam Sri Lanka 7,39 persen. Menurut Prawoto, jumlah kedai khusus teh yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kedai kopi bisa menjadi indikasi teh masih dipandang inferior. Kebanyakan kedai teh yang ada pun menyediakan produk impor. Ketua Masyarakat Pariwisata Indonesia Daerah Jabar HS Hermawan mengatakan, teh jangan dianggap sebagai minuman yang rendah kelasnya. "Masyarakat suka mengatakan, maaf hanya bisa menghidangkan teh. Di China dan Jepang teh itu minuman sakral, kenapa kita menganggapnya rendah," ujarnya. Di rumah makan sering didapati pelayan menyuguhkan teh, tetapi tamu ditanya minuman yang akan dipesannya. Teh seperti menjadi minuman kelas dua. Terkait dengan itu, teh sebagai produk andalan Jabar justru harus bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. "Teh juga bukan minuman keras, bahkan menyehatkan. Remaja yang sekarang senang minuman keras, saya menganjurkan beralih-lah ke teh," katanya. Gubernur Jabar Danny Setiawan menyatakan, para bupati dan wali kota beserta satuan kerja perangkat daerahnya sudah dikirimi surat berkali-kali agar menyajikan teh dalam setiap acara formal. Menurut Kepala Dinas Perkebunan Jabar H Herdiwan, pemasaran teh kurang dikemas menarik sebagai upaya menampilkan produk kebanggaan nasional. (bay) sumber : http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0709/08/Jabar/26268.htm |